Sejarah Candi Prambanan: Jejak Kemegahan Cinta dan Peradaban

by -4 Views
sejarah candi prambanan

Penemuan Candi Prambanan di Era Modern

Masa Terlupakan dan Penemuan Kembali

Selama ratusan tahun, Candi Prambanan nyaris dilupakan. Tapi segalanya berubah pada awal abad ke-19, saat pemerintah kolonial Hindia Belanda mulai menjelajahi kembali peninggalan masa lalu di Jawa. Pada tahun 1733, sudah ada laporan tentang reruntuhan candi di kawasan Prambanan, tapi baru tahun 1830-an penjelajahan serius dilakukan oleh para arkeolog dan insinyur Belanda.

Salah satunya adalah Cornelius Antonie Lons, yang mendokumentasikan reruntuhan dan mulai membersihkan area dari semak belukar. Inilah momen penting dalam penemuan Candi Prambanan kembali ke dunia modern.

Peran Hindia Belanda dalam Identifikasi Awal

Pemerintah kolonial menyadari pentingnya situs ini, baik dari segi budaya maupun potensi wisata. Maka, pada akhir abad ke-19, proses identifikasi dan pendataan dilakukan secara lebih sistematis. Namun sayangnya, banyak artefak dicuri, dijual, atau rusak karena kurangnya regulasi dan pengawasan. Di sisi lain, inilah juga awal mula proyek besar pemugaran Candi Prambanan kolonial Belanda, yang akan dibahas di bagian selanjutnya.

Restorasi Candi Prambanan: Upaya Melestarikan Warisan

Tahap Awal Restorasi oleh Pemerintah Kolonial

Setelah penemuan kembali candi ini, barulah perhatian mulai tertuju pada pentingnya menyelamatkan bangunan megah tersebut dari kehancuran total. Tapi upaya awal restorasi Candi Prambanan pada masa kolonial Belanda penuh tantangan. Bukan hanya karena kurangnya teknologi dan dana saat itu, tetapi juga karena rendahnya kesadaran akan nilai sejarah dari artefak masa lampau.

Proses pemugaran dimulai secara formal pada tahun 1918 di bawah pimpinan arsitek Belanda, Theodoor van Erp. Ia dikenal juga karena karyanya dalam restorasi Borobudur. Van Erp menerapkan sistem rekonstruksi anastilosis—metode menyusun kembali bangunan menggunakan batu asli sebanyak mungkin. Namun karena banyak batu hilang atau rusak, sebagian struktur harus menggunakan batu baru.

Restorasi tahap pertama lebih bersifat preventif, seperti mengamankan fondasi dan membersihkan area. Kompleksitas pemugaran ini sangat tinggi karena bangunan sudah terlalu lama terbengkalai. Batu-batu berserakan dan tidak tercatat dengan sistematis. Bahkan, beberapa bagian struktur utama seperti Candi Siwa hanya bisa direkonstruksi sebagian.

Tantangan dan Perkembangan Pemugaran Pasca-Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, tanggung jawab pelestarian beralih ke pemerintah Indonesia. Pada tahun 1953, pemugaran Candi Siwa selesai dan diresmikan oleh Presiden Soekarno. Ini merupakan tonggak penting dalam sejarah pemugaran Candi Prambanan. Proyek tersebut jadi simbol semangat bangsa dalam merawat peninggalan sejarahnya sendiri.

Namun tantangan belum selesai. Selain soal teknis seperti pencocokan batu dan ketahanan struktur terhadap gempa, ada juga persoalan birokrasi dan dana. Indonesia baru merdeka dan banyak sektor yang butuh perhatian. Namun berkat semangat para arkeolog dan tim teknis lokal, pemugaran terus berlanjut dengan melibatkan teknologi modern dan pengawasan ketat.

Dalam dekade-dekade berikutnya, proses restorasi mencakup area yang lebih luas. Candi-candi pendamping seperti Candi Brahma dan Wisnu juga mulai direkonstruksi. Pemerintah juga melibatkan UNESCO dalam proyek ini, dan akhirnya pada tahun 1991, Candi Prambanan ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia.

Kisah pemugaran Candi Prambanan kolonial Belanda hingga era kemerdekaan menunjukkan transformasi paradigma—dari penjajahan ke pelestarian mandiri. Ini adalah bukti nyata bahwa bangsa Indonesia mampu menjaga jejak sejarahnya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

No More Posts Available.

No more pages to load.